MUQODIMAH MANQOBAH
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
ياامام المتقين
ويا صفوةالعابدين
YAA IMAMAL MUTTAQIINA
WA YAA SHOFWATAL ‘AABIDIINA.
وياقوي الاركان
وياحبيب الرحمان
WA YAA QOWIYAL ARKAAN
WA YAA HABIBAR ROHMAAN.
ويامجلي الكلام القديم
وياشفاءاسقام السقيم
WA YAA MUJLIYAL KALAAMIL QODIMI
WA YAA SYIFAAA ASQOOMIS SAQIIMI.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَآءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ ۞ اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوا يَتَّقُوْنَۗ ۞ لَهُمُ الْبُشْرٰى فِي الْـحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِۗ لَا تَبْدِيْلَ لِكَلِمٰتِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
Bismillaahirrohmaanirroohim. Alaa inna Auliyaa’alloohi laa khoufun ‘alaihim wa laahum yahzanuun. Alladziina aamanuu wakaanuu yattaquun. Lahumul busyroo fil hayaatid dunyaa wa fiil aakhiroh, laa tabdiila likalimaatillaah, dzaalika huwal fauzul ‘azhiim.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ ، وَلَا عُدْوَانَ اِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهٖ وَصَحْبِهٖ اَجْمَعِيْنَ ، اَمَّا بَعْدُ :
Bismillaahirrohmaanirroohim. Alhamdulillaahi Robbil ‘aalamin, wal ‘aaqibatu lill Muttaqiin, walaa ‘udwaana illaa ‘alazh zhoolimiin, wash sholaatu was salaamu ‘alaa Sayidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihii wa shohbihii ajma’iin, Ammaa ba’du:
“Dengan menyebut Nama Alloh Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. Puji bagi Alloh pencipta Semesta alam. Sholawat serta salam semoga dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW berserta keluarganya, sahabatnya serta ‘awliya Alloh dan para pengikutnya sampai hari akhir.”
Ini sekelumit manaqib Sulthon Awliya’ Syaikh Abdul Qodir Al Jailani, kutipan dari kitab “Uquudul La’aali Fii Manaqibil Jayli” dan kitab “Tafrìhul Khòtir Fì Manàqibis Sayyid ‘Abdul Qòdir.”, semoga dengan dibacakan manaqib ini, Alloh SWT melimpahkan keberkahannya kepada kita sekalian, terutama kepada Shohibul Hajat (……) dimudahkan rizki yang halal, dijauhkan dari malapetaka dunia dan akhirat, diterima segala niat dan maksud kita, dimudahkan urusan kita yang berhubungan dengan dunia dan akhirat, Aamiin Yaa Robbal ‘aalamiin.
ROBI’UST STANI
Manqobah Ke-51 : Wasiat Syaikh Abdul Qodir Kepada Putranya Abdul Rozak
Syaikh Abdul Qodir telah berwasiat kepada putranya yang bernama Abdul Rozak dengan beberapa wasiat, diantaranya :
“Wahai anakku, semoga Alloh melimpahkan Taufiq dan Hidayah-Nya kepadamu dan kepada segenap kaum muslimin. Wahai anakku, bertawak Alloh kepada Alloh, pegang syara’ dan laksanakan, dan pelihara batas-batasnya. Ketahui bahwa Thoriqotku dibangun berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rosululloh SAW. Hendaknya kamu berjiwa bersih, dermawan, murah hati dan suka memberi pertolongan kepada orang lain dengan jalan kebaikan. Jangan keras hati atau berlaku tidak sopan. Sebaiknya kamu bersikap sabar dan tabah menghadapi segala ujian dan cobaan. Hendaknya kamu mengampuni kesalahan orang lain dan bersikap hormat pada sesama ikhwan dan semua fakir miskin.
Perihara olehmu kehormatan guru-guru, dan berbuat baiklah kepada orang lain, beri nasihat yang baik kepada orang-orang besar tingkat kedudukanya, demikian pula bagi masyarakat kecil. Jangan suka berbantah-bantahan dengan orang lain kecuali dalam masalah agama.
Ketahuilah bahwa hakikat kemiskinan adalah perlu kepada orang lain, dan hakikat tidak perlu kepada orang lain. Tasawwuf dicapai dengan jalan lapar dan pantangan dari hal-hal yang disukai dan dihalalkan, dan tidak banyak bicara, jika kamu berhadapan dengan orang faqir, jangan dimulai dengan ilmu, sebab akan menjauh denganmu. Sebaiknya, hendaklah dimulai dengan kasih sayang, bersikap lembutlah terhadapnya, membuatnya lebih dekat padamu.
Tasawwuf dibangun diatas delapan hal yakni; 1. Dermawan, 2. Ridlo, 3. Sabar, 4. ‘Isyaroh, 5. Mengembara, 6. Berbusana bulu, 7. Pecinta alam, dan faqir. Dermawan Nabi Ibrohim, ridho Nabi Ishaq, sabar Nabi Ayyub, Isyarohnya Nabi Zakaria, mengembara seperti Nabi Yusuf, berbusana wool seperti Nabi Yahya, pecinta alam Nabi Isa, dan kefakiran Nabi Muhammad SAW.
Bila kamu berkumpul bersama orang kaya, perlihatkan kegagahanmu, kerendahan hati bila berkumpul dengan orang miskin. Hendaknya kamu ikhlas dalam setiap perbuatan. Seharusnya selalu mengingat Alloh. Jangan berprasangka buruk Kepada Alloh. Harusnya berserah diri kepada Alloh dalam segala perbuatan. Jangan menggantungkan diri kepada orang lain, walaupun keluarga walaupun teman sejawat. Layani faqir miskin dengan 3 hal; pertama, tawadhu’; kedua, budi pekerti; dan ketiga, kebeningan hati.
Perhatikan olehmu bahwa yang paling dekat kepada Alloh ialah orang yang paling budi pekertinya. Dan amal yang paling utama ialah memelihara hati dari melirik kepada selain Alloh.
Bila bergaul dengan orang miskin, berwasiatlah dengan kebenaran dan kesabaran. Cukup bagimu dari dunia itu dua hal: pertama, bergaul dengan orang miskin, kedua menghormati wali. Selain dari pada Alloh, segala sesuatu itu jangan dipandang cukup, gagah kepada yang dibawahmu adalah pengecut, gagah terhadap sesuatu adalah lemah dan gagah kepada orang yang lebih tinggi kedudukanya adalah sombong. Ketahuilah bahwa Tasawwuf dan fakir merupakan Dwi Tunggal kebenaran yang hakiki, bukan main-main, oleh karena itu jangan dicampur dengan main-main”.
Demikian wasiat ayah, semoga Alloh melimpahkan taufiq dan hidayahnya kepadamu dan kepada murid-murid, atau kepada siapapun yang mendengar wasiat ini, semoga dapat mengamalkanya dengan syafa’at junjungan kita Nabi Muhammad SAW, Aamiin ya Robbal ‘alamin.
اللّٰهُمَّ انْثُـرْ عَلَيْهِ النَّفَحَاتِ وَالرِّضْوَانِ، وَأَمِدَّنَا بِأَسْرَارِهِ فِى كُلِّ وَقْتٍ وَمَكَانِ
Alloohumman tsur A’laihin nafahaati war Ridhwaan, Wa’amiddanaa Bi Asroorihii Fii Kulli Waqtiw Wamakaan.
———۞۞۞———
Manqobah Ke-53 : Syaikh Abdul Qodir Wafat
Menjelang akhir hayatnya, Malaikat Ajro’il datang mengunjungi Syaikh dikala matahari akan terbenam membawa surat dari Alloh SWT untuk Syaikh dengan alamat sebagai berikut: “Yashilu hadzal maktubi minal muhibbi ilal mahbubi” (Surat ini dari Dzat Yang Maha Pengasih disampaikan kepada Wali yang dikasihi). Kemudian surat tersebut diterima oleh putranya yang bernama Sayyid Abdul Wahhab. Setelah diterima, masuklah ia bersama Malaikat Ajro’il. Sebelum surat dihanturkan kepada Syaikh, beliau sudah mengerti bahwa beliau akan berpindah ke alam ‘uluwi, alam tinggi yakni meninggal Dunia.
Syaikh bersabda kepada putra-putranya: “Jangan mendekat, karena lahiriyahku bersama-sama dengan kamu, sedang bathiniyahku bersama selain kamu, dan perluas ruangan ini karena hadir selain dari padamu, tunjukan sopan santunmu.”
Siang dan malam, tak henti-hentinya beliau mengucapkan :
“Wa’alaikumus salaam wa rohmatullohi wa barokatuh. Ghofarolloohu lii walakum, taaballohu ‘alayya wa ‘alaikum, Bismillahi ghoyri muudiina. Wadkhulu fi shoffil awwali, idzan ajii’u ilaykum, rifqon rifqon wa ‘alaikumus salaamu ajii’u ilaykum, Qifuu ataahul haqqu wa sakarotul mawti.
Beliau berpesan : “Jangan ada yang menanyakan apapun kepadaku setelah aku bolak-balik dalam lautan Ilmu Alloh”, lalu membaca :
Ista’antu bilaa ilaaha illallohu, Subhaanahu wa ta’aala wal hayyil ladzi laa yakhsal fawtu, Subhana man ta’azzaza bil qudroti waqoharo ibaadahu bil mawti laa ilalaha illallohu Muhammadur Rosulullahi, ta’azzaza, ta ‘azzaza Allohu Allohu Allohu.
Terdengar suara nyaring, lalu suaranya lembut tidak terdengar lagi, dan meninggAlloh Ridwanullohu ‘alaihi.
Syaikh wafat pada malam Senin ba’da ‘Isya, tanggal 11 Robi’ul Akhir tahun 561 Hiriyah (1166 Masehi) pada usia 91 Tahun.
اللّٰهُمَّ انْثُـرْ عَلَيْهِ النَّفَحَاتِ وَالرِّضْوَانِ، وَأَمِدَّنَا بِأَسْرَارِهِ فِى كُلِّ وَقْتٍ وَمَكَانِ
Alloohumman tsur A’laihin nafahaati war Ridhwaan, Wa’amiddanaa Bi Asroorihii Fii Kulli Waqtiw Wamakaan.
———۞۞۞———
DOA MANQOBAH
اِلَى حَضْرَةِ سُلْطَانِ الْاَوْلِيَاءِ وَقُدْوَةِ الْاَصْفِيَاءِ قُطْبِ الرَّبَّانِيْ وَالْغَوْثِ الصَّمَدَنِي السَّيِّدِ الشَّيْخِ عَبْدُالْقَادِرِاَلْجَيْلَانِيْ (اَلْفَاتِحَةْ)
Ila hadlroti sulthonil auliya-i wa qudwatil ashfiya-i quthbir robani wal ghoutsush shomadani sayyidi syaikh ‘abdul qodir aljailani. Al-Fatihah
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيعِناَ وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهٖ وَاَصْحَابِهٖ اَجْمَعِيْنَ اٰمِينْ
Allohhumma sholli wa sallim ‘ala sayyidina wa habibina wa syafi’ina wa maulana muhammadiw wa ‘ala alihhi wa ashhabihhi ajma’ina. Aamiin
اَللّٰهُمَّ بِاَسْمَائِكَ الْحُسْنَى, وَبِاَسْمَاءِ نَبِيِّكَ الْمُصْطَفٰى, وَبِاَسْمَاءِ وَلِيِّكَ,
عَبْدُ الْقَادِرِ الْمُجْتَبَى طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنْ كُلِّ وَصْفٍ يُبَاعِدُنَا عَنْ مُشَاهَدَتِكَ
Allohhumma bi asma-ikal husna , wa bi-asma-i nabiyyikal mushthofa , wa bi-asma-i waliyyika, ‘Abdul Qòdiril mujtaba thohhir quluubana ming kulli washfiy yuba’iduna ‘am musyahhadatika,
وَمَحَبَّتِكَ وَاَمِتْنَا عَلَى السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ, وَشَرِّحْ بِهَا صُدُوْرُنَا, وَيَسِّربِهَا اُمُوْرَنَا, وَفَرِّجْ بِهَا هُمُوْمَنَا,
Wa mahabbatika wa amitna ‘ala sunnati wal jama’ah , wa syarrih bihaa shuduuronaa , wa yassir bihaa umuuronaa, wa farij bihaa humuumanaa,
وَاكْشِفْ بِهَا غُمُوْمَنَا, وَاغْفِرْ بِهَا ذُنُوْبَنَا, وَاقْضِ بِهَا دُيُوْنَنَا, وَاَصْلِحْ بِهَا اَحْوَالَنَا,
Waksyif bihaa ghumuu manaa , waghfir bihaa dzunuubanaa , waqdli bihaa duyuunanaa ,wa ashlih bihaa ahwalana ,
وَبَلِّغْ بِهَا اٰمَالَنَا, وَتَقَبَّلْ بِهَا تَوْبَتَنَا, وَاغْسِلْ بِهَا حَوْبَتَنَا, وَانْصُرْ بِهَا حُجَّتَنَا,
Wa balligh bihaa aamaalanaa , wa taqobbal bihaa taubatanaa , waghsil bihaa haubatanaa , wangshur bihaa hujjatanaa ,
وَاجْعَلْنَا بِهَا مِنَ الْمُتَّبِعِيْنَ, لِشَرِيْعَةِ نَبِيِّكَ الْمُتَّصِفِيْنَ, بِمَحَبَّتِهِ الْمُهْتَدِيْنَ
Waj ‘alnaa bihaa minal muttabi’iina , Lisyarii’ati nabiyyikal muttashifiina, bi-mahabbatihil muhtadiin,
بِهَدْيِهٖ وَسِيْرَتِهٖ وَتَوَفَّنَا بِهَا عَلىَ سُنَّتِهٖ, وَلَا تَحْرِمْنَا فَضْلَ شَفَاعَتِهٖ, وَاحْشُرْنَا فِيْ زُمْرَتِه,
Bihadyihi wa siirotihi wa tawaffanaa bihaa ‘ala sunnatihi , wa laa tahrimnaa fadl-la syafaa’atihi , wahsyurnaa fii zumrotihi ,
وَاَتْبَاعِهِ الْغُرِّ الْمُحَجِّلِيْنَ, وَاشْيَاعِهِ السَّابِقِيْنَ, وَاَصْحَابِ الْيَمِيْنَ يٰااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
وَصَلَّى اللّٰهُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهٖ وَاَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى سَائِرِِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلٰى اٰلِهِمْ وَاَصْحَابِهِمْ اَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
بِالْبَرَكَهْ وَالْكَرَمَهْ . الشَّيْخِ مُحَمَّدْ عَبْدُ الْغَوْثِ سَيْفُ اللّٰهِ مَسْلُوْلُ قَدَّسَ اللّٰهُ سِرَّه . اَلْفَاتِحَةْ
Wa atbaa’ihil ghurril muhajjiliina, wa asy-yaa’ihis saabiqiina, wa ash-haabil yamiin yaa arhamar roohimiina.
Washollalloohu alaa sayyidinaa Muhammadin wa alaa aalihii wa ash-haabihi, Wa’ala saa-iril anbiyaa-i wal mursaliin, wa ‘alaa aalihim wa ash-haabihim ajma’iin Wal hamdulillahi robbil ‘aalamiin.
Bilbarokah wallkaromah. Syaikh Muhammad Abdul Gaos Syaifulloh Maslul Qaddasalloohu Sirrohu. Al-Fatihah.